Close

Kabata di Kepulauan Banda

“Sei hale hatu, hatu lisa pei. Sei lesi sou, sou lisa ei”
artinya:
“Barang siapa membalikkan batu, maka batu akan menindisnya. Barang siapa melanggar sumpah, maka sumpah akan membunuhnya.” – lawamena haulala (Maju Terus Kedepan Walaupun Berdarah-darah)

Penggalan diatas adalah salah satu bahasa nenek moyang di tanah Maluku yang sering disebut sebagai kabata (beberapa daerah menyebutnya dengan Kapata); sebuah syair adat sakral yang menyimpan banyak makna dan nilai-nilai luhur.

Masih banyak kabata yang dilantunkan dalam ritual adat, namun tidak diperkenankan atau dilarang untuk didokumentasikan. Keyakinan masyarakat bahwa jika syair dalam Kabata ditulis ataupun diketahui oleh masyarakat luas, maka akan mengurangi nilai kesakralannya. Keyakinan masyarakat bahwa jika syair dalam Kabata ditulis atau pun diketahui oleh masyarakat luas maka akan mengurangi nilai kesakralannya.

Kabata menjadi elemen penting dan menjadi satu kesatuan dengan rangkaian adat di Kepulauan Banda. Kabata menjadi magnet dan menambah nilai sakral dalam setiap upacara adat. Kabata tidak hanya menyimpan sejarah masa lalu, namun menjadi pembeku dan pemelihara bahasa Tana.

Tidak banyak masyarakat bahkan tidak semua tetua adat di negeri/kampung adat di Pulau Banda yang mampu dan menguasai semua isi dalam kabata. Akan tetapi, melalui peran Natu, Kabata di kepulauan Banda dapat dikatakan masih lestari. Natu adalah orang yang bertugas untuk melantunkan Kabata. Akan tetapi, kesakralan kabata menyebabkan banyak masyarakat yang tidak paham maksud dan tujuan yang terkandung di dalamnya.

Selain Kabata, tersimpan istilah-istilah dalam bahasa tanah di Kepulauan Banda seperti amakaka (tetua adat), karaso (sesajen yang akan dipersembahkan kepada para leluhur), aulia umbia (istilah yang digunakan untuk menyebut para leluhur), ursia (tetua adat yang terdiri atas sembilan pasang suami dan istri), orlima (tetua adat yang terdiri atas lima pasang suami dan istri, lot-lot (seperangkat tifa dan gong), poe (menghambur-hamburkan benda upacara), dan sebagainya.

Bahasa Tana yang hidup dalam Kabata menjadi bagian tidak terpisahkan dari ritual adat. Secara sederhana masyarakat Banda memegang teguh konsep “Bahasa selamatkan adat dan adat menjaga bahasa.”

Kabata, bahasa Tana, dan ritual adat adalah budaya yang menandakan ciri atau kekhasan masyarakat di Kepulauan Banda. Melalui Kabata, kesakralan upacara dalam lantunan bahasa Tana dapat dirasakan. Kabata tak hanya sekadar nyanyian, namun menyimpan banyak makna dan nilai-nilai luhur, juga menjadi media pemelihara bahasa Tana di Kepulauan Banda.

Artikel ini ditulis melalui pengalaman langsung dan beberapa referensi, salah satunya disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *